Efek Halo Matahari

Sedang melihat-lihat lagi email lama di account yahoo saya, eh nemu beberapa email dengan subject ucapan terima kasih dari nama-nama yang tidak terlalu saya kenal. Iseng, saya buka lagi email-email itu.
Ternyata isinya ucapan terima kasih dari beberapa rekan dari sebuah milis untuk foto-foto tentang efek Halo Matahari di Bandung yang saya posting dalam milis tersebut sebelumnya, sekitar bulan September 2007 silam. It was almost 3 years ago and I have kept the emails in my inbox :).
Oh ya, saya ingat moment itu. Waktu itu kebetulan saya tidak ada jadwal kuliah sehingga seharian saya di kantor. Sekitar jam 12-an, Teh Yuli –korlip news Program di radio tempat saya bekerja- menginter saya agar naik ke lantai 3 untuk melihat matahari. Saya tertawa waktu mendengarnya. Melihat matahari?
Tapi Teh Yuli memaksa saya untuk naik ke atas dan masuk ke ruang studio. Dan benar, matahari hari itu memang sangat lain dari biasanya. Terlihat begitu cantik. Sayang, hasil foto saya tidak terlalu bagus karena posisi studio radio saya yang memang tidak memungkinkan untuk memotret dengan leluasa moment langka itu.
Meski kejadiannya hampir 3 tahun silam, tapi semoga tetap bisa memberikan sedikit gambaran tentang betapa indahnya fenomena alam yang terjadi. Foto-foto di bawah ini diambil dari HP Nokia oleh Mas Ardhie, seorang teman dari radio tetangga yang banyak membantu skripsi saya (Mas Ardhie, saya upload fotonya di sini ya).
Enjoy!

Menurut keterangan seorang ahli dari Lapan yang beritanya saya baca dari sebuah media online, lingkaran itu adalah efek Halo yang terbentuk karena ada pembiasan cahaya akibat adanya awan cirrus (awan tipis setinggi 10 km dari permukaan laut).
Hmm, cantik ya...

Sherlock Holmes

Dashyat! Itu kata pertama yang keluar setelah saya menonton film ‘Sherlock Holmes’ Sabtu kemarin.
Sherlock Holmes, tokoh fiktif karya novelis asal Inggris Arthur Conan Doyle, yang diangkat ke film produksi Warner Bros. Tokoh sentral dalam film ini, Sherlock Holmes, diperankan oleh Robert Downey Jr. Pemeran lainnya Jude Law, Rachel Mc. Adams, Mark Strong, dan Kelly Reilly.

Ceritanya seru dan menantang. Film ini dibuka dengan adegan penggagalan ritual pembunuhan seorang wanita yang dilakukan Lord Blackwood oleh Sherlock Holmes dan dr. Watson. Penggagalan ritual tersebut membuat Lord Blackwood dijatuhi hukuman mati. Cerita kemudian berkembang dengan berita bangkitnya Lord Blackwood dari alam kubur meski dr. Watson telah memastikan jika Lord Blackwood telah meninggal, disusul dengan beberapa pembunuhan terhadap orang-orang yang menghalangi keinginan Lord Blackwood untuk berkuasa dengan cara-cara yang berbau mistis.
In short, semua mistis yang dilakukan oleh Lord Blackwood ternyata dapat dipatahkan dengan sederet argumentasi yang cerdik dan penuh logika oleh Sherlock Holmes. Penjabaran penjelasan untuk menyangkal teknik-teknik mistis Lord Blackwood diberikan Holmes secara kasus per kasus, membuat penonton menjadi mudah untuk memahaminya.
Alur ceritanya menarik. Beberapa bagian cerita menggunakan alur flash back yang semakin membuat kita larut dalam film itu. Setting tempatnya juga keren. Film garapan Guy Ritchie ini menggambarkan suasana Inggris zaman revolusi industri. London Bridge pun diperlihatkan masih dalam tahap pembangunan. Meski porsinya tidak banyak, tapi dialog yang menceritakan perasaan antara dr. Watson dan Mary, tunangan dr. Watson yang masa lalunya terkuak oleh penerawangan Holmes, tergambar dengan manis. Begitu pula kisah cinta antara Holmes dengan Irena Adler.
Banyak adegan yang mendebarkan. Salah satunya pada saat Holmes, Irena dan Watson menghadapi mesin yang dapat membelah seekor hewan menjadi dua. Ada sisi menyentuhnya juga, ketika Watson menghentikan langkah Holmes dan membiarkan dirinya berada dalam perangkap bom yang dipasang Blackwood. Beberapa adegan, mimik muka dan dialog meski diucapkan atau ditampilkan dalam suasana serius namun bisa juga memancing tawa penonton. Terutama ketika ada adegan yang memperlihatkan dan membicarakan tentang anjing-nya dr. Watson.
Berbeda dengan beberapa film yang saya tonton sebelumnya, di mana endingnya terasa kurang menggigit, Sherlock Holmes mampu menyajikan sebuah ending yang membuat para penontonnya puas (setidaknya buat saya :D). Meski Profesor Moriarty -musuh Sherlock Holmes lainnya yang sepertinya jauh lebih tangguh dibanding Lord Blackwood- baru dimunculkan di akhir film, tapi kesan mengigit tidak bisa dilepaskan dari akhir film ini. Hmm, tampaknya bakal ada sekuel ke dua-nya nih :).
Kalau yang masih menimbulkan tanda tanya di benak saya adalah bagaimana dengan nasib para pengikut Lord Blackwood yang pada saat Blackwood bertarung dengan Holmes berada di Gedung Parlemen Inggris dan membentengi anggota parlemen lain agar tidak bisa keluar. Apakah mereka akan dihakimi secara massal oleh anggota parlemen lain yang tidak mendukung Blackwood? Well, sudahlah, menurut saya itu juga bukan bagian yang terlalu penting juga untuk diceritakan lebih lanjut :).
Oh ya, meski bintang utama dalam fim ini adalah Sherlock Holmes, tapi saya kok lebih jatuh hati ya dengan dr. John Watson. Lebih ganteng, keren, calm, cool, dan nggak kalah smart dengan Sherlock Holmes :D
After all, film ini fully recommended untuk dijadikan film pilihan wajib ditonton weekend ini. Belum nonton? Enjoy the film!

(Masih) Seputar Undangan

Jodoh nggak akan lari kemana, tapi kalo nggak kemana-mana ya nggak akan jadi jodoh :)
---------------------------------

Jodoh itu bukan hanya untuk ditunggu, yang tiba-tiba bisa jatuh dari langit dan mendarat tepat di depan kita sembari bilang, ’akulah jodoh-mu’ (hahaha, ini versi Ria, salah satu teman saya di kos). Jodoh juga tidak bisa hanya diangan-angankan, diimpikan siang dan malam. Harus ada usaha. Perlu perjuangan (masih ingat dengan reality show pertama tentang perjuangan cinta? :D). Juga doa. Dan membutuhkan waktu. Untuk saling mengenal, menyayangi, memahami dan menghargai satu sama lain, serta membuat satu komitmen.
Jodoh itu nggak bisa ketebak. Kapan datangnya maupun di mana bertemunya.
Teman saya, sebut saja si A, berpacaran hingga 5 tahun dengan si B. Setelah itu mereka putus. Si A akhirnya bertemu dengan si C, berpacaran lebih kurang 6 bulan dan kemudian menikah awal tahun ini. Adalagi si D berpacaran dengan si E waktu SMU, kemudian putus karena kuliah di tempat yang berbeda. Si D kemudian pacaran dengan orang lain, begitu juga si E. Selang 4 tahun setelah putus, mereka balikan lagi hingga sekarang dan akan menikah pertengahan tahun ini. Dua orang kakak angkatan saya bertemu dengan suaminya pada saat KKN, padahal sebelum mengikuti KKN mereka telah berpacaran cukup serius dengan pacar terdahulunya masing-masing, satu diantaranya bahkan akan segera bertunangan.
Oh ya, ada satu kisah lain tentang bagaimana bertemu dengan si ’jodoh’ dari seorang teman yang membuat saya benar-benar yakin bahwa jodoh itu di tangan Tuhan. Also it needs our efforts to make us be able to meet someone who named soulmate. Soon or slow but sure :D
F, inisial salah satu teman saya, menempati posisi ke 6 dari seleksi akhir dalam program beasiswa untuk belajar ke negara tetangga yang ia ikuti. Padahal yang menerima beasiswa hanyalah 5 peringkat teratas. Beberapa minggu sebelum keberangkatan para peserta yang telah lolos seleksi beasiswa tersebut ke negara tujuan program beasiswa, ada satu orang dari ke lima peserta itu yang gagal berangkat karena satu dan lain hal. Satu kursi dari peserta itu kemudian diberikan untuk teman saya yang menempati peringkat ke 6. 
Singkat cerita, akhirnya teman saya berangkat ke sebuah negara tetangga untuk melanjutkan pendidikannya, dan selang 1 tahun sekembalinya dia ke Indonesia setelah menyelesaikan studinya, si F kemudian menikah dengan teman kuliahnya yang ia kenal semasa belajar di negara tersebut.
Satu hal yang langsung melintas di pikiran saya waktu saya mendengar kabar pernikahannya, juga bagaimana ia bertemu dengan suaminya itu. Soulmate is about God’s secret. God has always a unique and unpredictable way to make us meet our soulmate. Jika teman saya itu tidak jadi berangkat untuk melanjutkan studi ke negara itu, would she meet her future husband?
So, yuk perbanyak link pertemanan dan aktivitas kita. Siapa tahu dari sekian banyak teman atau orang yang kita temui dari aktivitas-aktivitas yang kita lakukan, kita bisa bertemu dengan our real soul-mate. Belum ada aturan tertulis juga kan kalau yang dekat dengan kita saat ini memang benar-benar jodoh kita, hohoho :D:D

Mother's Day and Its History

-It should be uploaded on December 22, 2009. I had a trouble with my internet connection on that day and forgot to upload this writing then :D- 

22 Desember 2009. Buka Facebook, hampir semua status teman di Facebook mengucapkan selamat hari Ibu.

Pernah nggak terpikir kenapa Hari Ibu dirayakan tiap 22 Desember atau kenapa 22 Desember ditetapkan sebagai hari Ibu?
Waktu iseng lihat-lihat status facebook beberapa teman, eh nggak sengaja saya membaca status salah satu rekan tentang hari Ibu yang cukup berbeda dengan status-status tentang Hari Ibu lainnya. Menurutnya, 22 Desember hanyalah hari pelaksanaan kongres perempuan I, dan yang dibahas dalam kongres tersebut tidak ada hubungannya dengan memuliakan Ibu ataupun perjuangan kaum Ibu. Hmm, info baru nih!
Karena penasaran, saya coba browsing di internet tentang sejarah hari Ibu. And, below is the history of Mother’s Day in Indonesia and (just a little bit of information) from the other countries which I summarized from several sources. Enjoy reading!

-------------------------------------------------

Sejarah Hari Ibu diawali dari pertemuan para pejuang wanita dengan mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember di Jogjakarta, di gedung Mandalabhakti Wanitatama. Kongres tersebut dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera. Hasil kongres tersebut salah satunya adalah terbentuknya Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani).
Peristiwa itu dianggap sebagai salah satu tonggak penting sejarah perjuangan kaum perempuan Indonesia. Pemimpin organisasi perempuan dari berbagai wilayah se-Nusantara berkumpul menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum perempuan. Berbagai isu yang saat itu dipikirkan untuk digarap adalah persatuan perempuan Nusantara; pelibatan perempuan dalam perjuangan melawan kemerdekaan; pelibatan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa; perdagangan anak-anak dan kaum perempuan; perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita; pernikahan usia dini bagi perempuan, dan sebagainya. Tanpa diwarnai gembar-gembor kesetaraan jender, para pejuang perempuan itu melakukan pemikiran kritis dan aneka upaya yang amat penting bagi kemajuan bangsa.
Penetapan 22 Desember sebagai Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Peringatan 25 tahun Hari Ibu pada tahun 1953 dirayakan meriah di 85 kota Indonesia, mulai dari Meulaboh sampai Ternate.
Tahun 1959 Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 yang menetapkan 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga saat ini.
Misi diperingatinya Hari Ibu pada awalnya lebih untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini. Dari situ pula tercermin semangat kaum perempuan dari berbagai latar belakang untuk bersatu dan bekerja bersama.
Adapun peringatan hari Ibu atau Mother’s Day di Amerika dan lebih dari 75 negara lain, seperti Australia, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Hongkong, dirayakan pada hari Minggu kedua bulan Mei. Hal ini didasari karena pada tanggal itu aktivis sosial Julia Ward Howe di tahun 1970 mencanangkan pentingnya perempuan bersatu melawan perang saudara.
Sedangkan peringatan Mother’s Day di sebagian negara Eropa dan Timur Tengah jatuh pada bulan Maret, pengaruh dari kebiasaan memuja Dewi Rhea –istri Dewa Kronus- dan ibu para dewa dalam sejarah Yunani Kuno.
-----------------------------
Terlepas dari makna tanggal 22 Desember, apakah hanyalah merupakan hari pelaksanaan kongres Perempuan I dengan materi pembahasan tidak ada hubungannya dengan perjuangan kaum Ibu dan memuliakan Ibu, ataukah diartikan sebagai sebuah hari khusus untuk para ibu, should we express our respect, thankful and deepest love for our beloved Mom only on a certain date? Let’s our Mom knows how special she is for us on our every single day!

Sebuah Catatan Akhir Tahun

December, 2009. One year will be almost complete in 20 minutes later.
I spent the last day in 2009 by going around Jakarta. The city was quiet enough, not as crowded as the normal days. I really enjoyed it much! If only Jakarta could be the same as that day everyday, only dreaming.
In the last 3 years, I celebrated the New Years in the different places with the different ambience.
I celebrated the 2008 New Year’s Eve with the owner of my dorm whom I have regarded as my family and some foreign friends in Bandung. There were Ms. Bernadette from South Africa who returned to her country in July 2009, Ms. Mihi who came from South Korea, also some other Japanese friends whom I totally forgot their names. We celebrated the New Year’s Eve by cooking, eating cake and watching the fireworks. Meanwhile, at that night, I was still waiting for my graduation ceremony.
In 2009, I celebrated the New Year’s Eve with family and some close friends in my hometown, Magelang. At that time, I have worked for 5 months in my current job and enjoyed a series of training provided by the company in the management trainee program.
Different from those two previous New Year’s Eves, I myself celebrated the New Year's Eve this year in Jakarta, a city where I have been living since one and a half year ago. A few months after graduation, I left Bandung for Jakarta to work.
New Year’s Eve has always been a time for looking back to the past. This is what I do right now. I am thinking about so many things that have happened during the year, counting some achievements, listing the mistakes I have done throughout the year, and starting to set reasonable goals for the coming year.
Let’s count down the time. We will welcome the New Year in about 5 minutes later!
Happy New Year everyone. Wish you a happy and healthy New Year. May great things always come to us.
See ya in 2010!

One-day Shopping with a Long-lost Friend

Setelah lebih dari 5 tahun tidak bertemu, akhirnya bisa juga saya ketemuan dengan Dewi, salah satu teman baik dari jaman SMU. Bermula setelah Dewi dipindah untuk bekerja di kantor pusat perusahaannya di Jakarta sekitar 3 bulan yang lalu, mulailah kami berkomunikasi lagi secara intens meski hanya melalui chatting dan sms.

Long weekend minggu ini kami janjian untuk bertemu di sebuah mall di Jakarta Selatan. Lama tak bertemu, ternyata hobi kita masih sama seperti jaman SMU dulu. Masih suka windows shopping ke sebuah department store yang diskonnya suka gila-gilaan terutama menjelang hari raya (clue-nya kalau kasih diskon 50 % + 20 %, ketebak kan nama dept. store-nya apa, haha :D), makan bareng sambil ngerumpi, dan nonton. Masih banci foto juga alias narsis :).

Banyak hal yang kami jadikan bahan pembicaraan (atau bahan gosip? :D), terutama cerita tentang jaman SMU. Mengenai si A dari kelas 2 A yang akhirnya menikah dengan si B dari kelas 2 C, si C dari kelas IPA 1, si D dari kelas IPS 2, siapa saja teman-teman yang sudah menikah, berapa banyak teman yang juga tinggal di Jakarta, hingga para mantan dan ‘gebetan’ kita jaman sekolah dulu :-).

Dewi juga masih nggak berubah. Kalau masalah belanja dan tawar menawar top abiss! Kaki pegal ataupun perut lapar tidak menjadi penghalang untuk mencari sepatu dari satu mall ke mall yang lain, dari satu counter ke counter yang lain :p. Oh ya ada satu hal baru dari Jeng Dewi tersayang, sekarang dia seorang maniak film Korea sehingga berburu DVD film Korea menjadi salah satu list must-do items dalam agenda shopping kita (saking cintanya, she just made a blog about all of Korean movie stars! Haha, piss Wi :D)

In short, waktu satu hari ternyata tidak cukup untuk bisa membuat seluruh rencana kita terlaksana. Belum nonton lah, yang ingin makan es krim cone ataupun mengobrol tentang banyak hal lainnya. Padahal hampir tiap malam kita chatting via YM ataupun FB, tapi pas ketemu kok ya rasanya masih banyak banget hal-hal yang bisa dijadikan bahan obrolan.

Sepulang dari acara jalan-jalan itu, ternyata Dewi masih meng-update statusnya di FB meski sudah larut malam, dan masih saya beri comment juga:). Selain janjian untuk bertemu lagi, kita juga janjian untuk : go more early and back home more lately! Hahaha :D.

 


Hari Jadi Perhumas

Selasa minggu lalu (15/12), saya diajak Erik -salah satu teman saya di kantor-, untuk datang ke acara Perhumas (Persatuan Hubungan Masyarakat) dan bertemu dengan para senior kami dalam rangka Hari jadi Perhumas.

Meski saya sudah mengikuti milis Perhumas sejak sekitar 3 tahun lalu, namun ini adalah keikutsertaan saya yang pertama dalam event Perhumas. Awalnya saya sempat berpikir untuk tidak jadi datang gara-gara salah naik bis yang membuat saya harus muter-muter Jakarta dulu :D. Tapi mengingat bahwa saya bisa mendapatkan hal-hal baru bagi pengembangan diri dan memperluas link networking, atau minimalnya dapat bertemu dengan para senior di bidang komunikasi dan humas, saya tetap berusaha untuk datang juga meskipun terlambat :-). Dan pilihan saya untuk tetap datang ternyata tidak salah.

Acara syukuran Hari Jadi Perhumas tersebut diadakan di Graha Merah Putih, Jl. Kemang Utara No. 4, Jakarta Selatan. Di sana, saya bertemu antara lain dengan Bapak Kiagus Imran Mahmud, Bapak Bambang Purwanto, Pak Budi, Pak Teddy beserta Ibu, Pak Agung, dan Bapak Amrih Sahri. Dan Erick, tentu saja :D.

Walaupun yang hadir tidak terlalu banyak, namun interaksi di antara yang hadir terasa begitu akrab dan hangat. Obrolan dan diskusi seputar komunikasi, current news maupun perkembangan Perhumas diselingi dengan canda tawa mewarnai acara yang berlangsung selama lebih kurang 2 jam, dari sekitar jam 8 hingga 10 malam.

Dari semua yang hadir memang hanya saya dan Erick yang baru mulai menapaki karier di bidang komunikasi ataupun PR. Senang rasanya bisa bertemu dan belajar banyak hal baru dari mereka yang telah jauh lebih dulu menekuni dan berpengalaman di bidang komunikasi atau Humas. Mereka pun begitu welcome menerima kehadiran saya dan Erick dari Perhumas Muda.

Banyak topik menarik dalam diskusi malam itu yang selain menambah wawasan juga membuka pikiran saya. Pengalaman dilengkapi dengan penguasaan teori yang matang merupakan beberapa hal yang pada akhirnya akan mengasah kemampuan seseorang untuk menjadi seorang yang handal di bidangnya. Terlibat dalam diskusi dan obrolan bersama para senior tersebut juga semakin memotivasi saya untuk terus belajar dan menambah wawasan saya di bidang ini.  

Oh ya, sebagaimana umumnya perayaan hari jadi lainnya, perayaan hari jadi perhumas juga ditandai dengan pemotongan tumpeng usai pembacaan doa. 



Usai makan nasi tumpeng dan lauk pauk komplit khas Sunda yang telah dipersiapkan oleh Ibu Teddy (terima kasih Bu untuk sajian yang begitu lengkap dan lezat), ditambah dengan dessert cake ulang tahun yang begitu yummy, acara ditutup dengan foto bersama oleh semua yang hadir (sayang Bu Teddy tidak bisa ikut berfoto bersama, the pic below was taken by her).


Dalam perjalanan pulang ke Jababeka, saya banyak mengobrol dengan Erick tentang topik-topik yang didiskusikan dalam acara tersebut maupun mengenai komunikasi itu sendiri. Dan kami sepakat, bidang ini memang bidang yang begitu menyenangkan dan menantang untuk dipelajari. Tidak ada hal yang tidak menarik untuk dipelajari lebih dalam lagi dari bidang komunikasi dan juga Public Relations.

Dirgahayu Perhumas!